Kain Tenun Dan Pewarna Alam

Kain Tenun dan Pewarna Alam

Kain Tenun dan Pewarna Alam

06-11-2017/TFCA Kalimantan/TFCA,TFCA KALIMANTAN,Kalimantan,Borneo,Pewarna,Pew


Harmonisasi Dengan Alam,

Upaya Lestarikan Kain Tenun Pewarna Alam Suku Dayak Iban Belum Pandai Menenun, Gadis Tidak Layak Dinikahkan


Kain tenun suku Dayak Iban hingga kini termasuk yang termahal di Indonesia. Motif-motif rumit dan mengandung makna filosofis. Dari Kalimantan Barat, kalin tenun itu terbang ke panggung New York Fashion Week 2017.


SAKRAL: Warga Dayak Iban menenun dengan menggunakan alat tradisional di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sebelum mulai, penenun harus melakukan ritual dan doa. (Foto: TFCA KALIMANTAN, Wahyudin (kontributor Jawa Pos))

 

Sepanjang dinding ruai (ruang tamu) rumah betang Sungai Sedik Kapuas Hulu, terpampang kain-kain tenun berupa motif dan ukuran di setiap kain, tergantung lebel yang mencantumkan nama penenun serta nama kelompoknya. Harganya paling murah Rp 1 juta, harga untuk motif-motif tertentu bisa tembus Rp 10 juta. Ketika kami berkunjung ke rumah betang tersebut, terdapat upacara adat yang menyambut. Ada sesajen beras pulut, ritual menginjak telur, memutar seekor ayam di atas sesajen, membuang arak ke tanah, serta menombak leher seekor babi sampai mati. Begitu naik ke tangga rumah betang, para perempuan Dayak tidak lupa mengalungkan kain tenun berbentuk syal tipis.

Teringat akan harga kain yang mahal, muncul keinginan kami untuk bertanya kepada salah seorang di antara mereka. Ternyata gratis, boleh dibawa pulang. Syal yang kami pakai berwarna kekuningan agak pucat. Setelah tanya sanasini, nama motifnya adalah buah bunut. Buah dalam bahasa Dayak Iban berarti motif.

Bunut adalah salah satu jenis tanaman, juga salah satu jenis buah. Buah bunut digunakan suku Dayak Iban sebagai bahan pewangi. Di bilik-bilik rumah betang alias rumah adat khas Dayak itu, satu keluarga setidaknya memiliki satu cawan berisi ekstrak buah bunut untuk pewangi. “Buah bunut juga diminumkan ke bayi, biar kencingnya tidak terlalu pesing,” cerita Edom, salah seorang penghuni rumah betang.

Suku Dayak Iban mewarisi budaya menenun sejak zaman nenek moyang mereka. Para perempuan sejak kecil dididik agar pandai menenun. Kata Edom, seorang gadis jika belum pandai menenun tidak layak dilamar atau dinikahkan. Ibu-Ibu biasanya menenun di sela-sela kesibukan mereka bercocok tanam. Sepulang dari ladang, mereka menghabiskan 1 hingga 2 jam duduk di tangga ubung, semacam kerangka kayu tempat alat tenun. Menyusun benang-benang dengan berbagai warna hingga membentuk motif motif yang indah.

Meski sekadar sampingan, proses menenun dianggap sakral. Perempuan yang akan memulai proses tenun harus melakukan ritual dan doa. Jika motif yang akan digambar merupakan karya orang lain, dia wajib melakukan proses yang disebut teladan.

Teladan secara umum adalah proses saat penenun ingin menyalin sebuah motif ke kain tenun yang baru. Si penyalin wajib meminta izin kepada pemilik motif. Pemilik motif biasanya menetapkan syarat-syarat khusus. ”Biasanya menyediakan sesajen, tempayan, atau piring,” tutur Edom.

Syarat-syarat itu bersifat wajib. Kalau tidak dipenuhi, si penyalin bakal celaka. Bisa jatuh sakit atau tertimpa musibah. Paling sering, meninggal sebelum kain tenun jadi. ”Kalau sudah meninggal, kain tenun dikubur bersama penenun. Tidak mungkin ada yang mau meneruskan,” kata Edom.

Bukan hanya untuk perempuan, para laki-laki yang membuat alat tenun juga tidak boleh sembarangan. Untuk membuat rakub alias penahan benang tenun bagian atas saja, diharuskan laki-laki yang sudah dituakan. Lelaki itu disebut nuduk. Untuk mendapat predikat nuduk, seorang lelaki harus melalui ritual duduk bertapa semalam suntuk, dikelilingi tari-tarian.

Selain buah bunut, ada ratusan motif lain. Masing-masing dengan tema tertentu. Ada yang menggambarkan tema alam, pohon, bunga, hingga akar-akar. Biasanya tentang sesuatu yang lekat dengan keseharian suku Dayak. Terutama relasi mereka dengan alam. Selain buah bunut, contoh lain adalah motif kiki beras, kulit pohon dari hutan yang dihaluskan dan digunakan sebagai sabun. Ada pula gelung kelindan dan siluk langiat yang artinya langit terbelah.



Kain tenun yang dipajang pada dinding ruai (Foto: TFCA Kalimantan, Wahyudin (kontributor Jawa Pos))

Yayasan KEHATI melalui Program TFCA Kalimantan, bersama mitra Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kreatif (Asppuk), berupaya membangun database motif-motif tersebut. Sampai sekarang belum selesai. Ada saja motif baru yang ditemukan setiap hari. Muhammad Ruslan, koordinator lapangan Asppuk, menyatakan bahwa sebuah motif menggambarkan imajinasi keluarga suku Dayak. Tidak semuanya bertema ajaran nenek moyang. Banyak pula yang mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang kondisi alam terkini. “Siluk langiat itu ceritanya tentang lapisan ozon yang semakin tipis karena penebangan hutan,” tutur Alan, panggilan Muhammad Ruslan

Dengan semangat melestarikan alam pula, Asppuk mengajak ibu-ibu Dayak Iban kembali menggunakan pewarna alami yang hampir ditinggalkan. Selama beberapa lama, para penenun memang lebih memilih pewarna sintetis dari bahan kimia untuk mewarnai serat benang. Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ijo Pumpung pimpinan Yati Dubah kemudian berinisiatif kembali menggunakan daun-daunan sebagai alat pewarna. Ada beberapa tanaman. Ada rengat padi dan rengat akar untuk menghasilkan warna hitam dan merah. Daun mengkudu dan kunyit untuk warna kuning serta kerbai laut untuk merah.



Daun Engkerbai yang dijadikan sebagai pewarna alam (Foto: TFCA kalimantan)

Daun-daun tanaman tersebut direbus dalam air mendidih. Air hasil rebusan dicampuradukkan hingga mendapatkan warna yang diinginkan. Untuk menghasilkan warna kombinasi seperti ungu dan hijau, air daun dicampur dengan kapur tempuyung yang dibuat dari cangkang siput sungai. “Untuk mengunci warna agar tidak luntur, kita juga pakai tawas atau kapur ini,” kata Yati.



Daun Engkerbai yang direbus untuk menghasilkan warna coklat (Foto: TFCA Kalimantan)

Dengan bantuan pendampingan TFCA Kalimantan - ASPPUK, KUB itu bahkan sudah berhasil menetapkan rumus takaran antara daun, air, tawas, dan kapur yang dibutuhkan untuk menghasilkan berbagai warna. Mereka punya tabel spektrum dan rumus campuran. Menurut Yati, kain hasil pewarna alam memang lebih pucat daripada pewarna bahan kimia. “Tapi, kualitasnya lebih tahan dan tidak mudah pudar,” katanya.

Yurita Puji, pemilik Armoire Boutique, mengakui tenun Dayak Iban masih salah satu yang termahal di Indonesia. Pada September 2017 dia berhasil menampilkan enam koleksi baju dari bahan tenun Dayak Iban dalam Nolcha Shows New York Fashion Week 2017. Meski mahal, dari segi desain kain tenun Dayak Iban memiliki warna yang alami dan tidak terlalu mencolok. Walau ada tantangan seperti bahan kainnya yang relatif tebal, Yurita harus menemukan desain yang pas untuk sepatu maupun baju. Dengan membawa kain tenun tersebut, Yurita ingin menyampaikan pesan harmonisasi dengan alam dan kepedulian tentang lingkungan. Selain itu, dia membawa misi pengembangan produk. ”Kalau produk ini laku, akan ada impact ekonomi ke daerah, anak-anak penenun bisa sekolah,” papar Yurita. 



 

Tampilan tenun ikat Dayak Iban Kapuas Hulu Kalimantan Barat yang ditampilkan di New York Fashion Week 2017

(Foto: TFCA KALIMANTAN  - ASPPUK)





Penulis: TFCA Kalimantan, Taufiqqurrahman (kontributor Jawa Pos))